Friday, 30 October 2026
Iklan

Muak Didemo, Aliansi Masyarakat Penambang Suwawa (AM-PS) Ancam Usir Kampus UNG dan Seluruh Kos Mahasiswa di Bone Bolango

Iklan

BONE BOLANGO — Kesabaran ribuan masyarakat penambang Suwawa akhirnya pecah. Amarah yang meletup akibat serangkaian aksi demonstrasi, fitnah, dan narasi bohong yang digaungkan segelintir oknum atas nama “rakyat” dan “mahasiswa” kini berbalik menjadi perlawanan terbuka. Aliansi Masyarakat Penambang Suwawa (AM-PS) secara tegas angkat bicara, menolak terus-terusan dijadikan jualan opini demi kepentingan kelompok tertentu.

Kondisi ekonomi yang serba sulit dan kemarau berkepanjangan membuat urusan perut tak lagi bisa ditawar. Karena itu, ketika ada pihak yang mencoba mengusik “dapur” mata pencaharian warga, kemarahan penambang tak lagi terbendung. AM-PS bahkan mengaku telah mengantongi identitas lengkap, foto, hingga alamat rumah dari orang-orang yang dinilai selama ini kerap meresahkan dan mengganggu ketenangan ribuan penambang.

Iklan

“Mereka yang selalu mengatasnamakan rakyat itu padahal hanya mencari uang lewat demo-demo tak bermanfaat! Kami minta dengan tegas, Kampus UNG dan seluruh kos-kosan tempat tinggal mahasiswa di Bone Bolango segera dipindahkan keluar dari daerah ini!” tegas Gustin, seorang penambang rakyat dengan nada geram.

Benturan Kepentingan: Ribuan Nyawa vs Segelintir Pendemo

Kritik pedas juga dilontarkan oleh Wahidun Hasan, tokoh dari Aliansi Masyarakat Penambang Suwawa. Ia mendesak aparat kepolisian dan pihak berwenang untuk membuka mata lebar-lebar dan melihat fakta di lapangan secara adil.

“Aparat dan pemerintah harus jeli! Mereka yang berteriak-teriak soal tambang ini sebenarnya punya kepentingan apa? Apa manfaat konkret yang sudah mereka berikan untuk rakyat?” ujar Wahidun lantang.

“Bandingkan dengan kami. Ada ribuan warga yang mengais rezeki dan menyambung hidup keluarga di lokasi ini. Jangan hanya karena takut dengan ancaman karier, pangkat, atau jabatan, lantas ribuan warga kecil di sini yang dikorbankan!” tambahnya.

Ancaman Usir dari Tanah Adat

Konflik ini menegaskan jurang pemisah antara penambang yang menggantungkan hidup sehari-hari di area tambang dengan oknum pendemo yang dinilai tidak mewakili suara masyarakat sesungguhnya. Menurut warga, aksi-aksi yang digelar selama ini tidak lebih dari manipulasi opini publik yang digerakkan oleh kelompok sangat kecil.

Kisman, anggota AM-PS lainnya, memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang terus menyudutkan nasib para penambang lokal.

“Orang yang berteriak-teriak itu dari dulu ya orangnya itu-itu saja, jumlahnya bahkan tak lebih dari 10 orang! Sementara kami yang berkeringat mencari nafkah di lokasi tambang ini jumlahnya ribuan. Jangan sampai hanya karena terpengaruh suara 10 orang yang motifnya mencari uang lewat pemerasan demo, ribuan rakyat kecil mau dikorbankan!” cetus Kisman penuh amarah.

“Eiii tunggu dulu! Kalau begini terus, kampus kalian dan kos-kosan di Kabila itu silakan angkat kaki dan pindah dari tanah adat ini!” pungkasnya menegaskan.

Iklan

Pos Terkait

No Response

There are no comments yet. Be the first to comment here.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *